Cara Menghitung Waktu Sholat: Panduan Lengkap

Cara Menghitung Waktu Sholat
Waktu sholat dalam Islam bukan ditentukan secara sembarangan — setiap sholat terkait dengan posisi matahari yang spesifik di langit.
Dasar Perhitungan Astronomi
- Subuh (Fajr) — Dimulai saat matahari berada 15°–18° di bawah ufuk. Ini adalah fajar shadiq.
- Zuhur — Sesaat setelah matahari melewati titik tertinggi (zawal).
- Ashar — Saat bayangan benda sama panjang dengan bendanya (Syafi'i) atau dua kali panjangnya (Hanafi).
- Maghrib — Saat matahari terbenam sepenuhnya.
- Isya — Saat mega merah (syafaq) menghilang, sekitar 15°–18° di bawah ufuk.
“Dirikanlah sholat sejak matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula sholat) Subuh. Sesungguhnya sholat Subuh itu disaksikan (oleh para malaikat).”
Surah Al-Isra 17:78
Metode yang Digunakan di Indonesia
Di Indonesia, Kementerian Agama (Kemenag) menggunakan standar astronomis lokal dengan sudut Subuh 20° dan Isya 18° — itulah mengapa waktu sholat resmi Kemenag bisa berbeda dari kebanyakan aplikasi internasional. Bagi Muslim Indonesia di luar negeri, metode Muslim World League (MWL) (18° Subuh, 17° Isya) paling banyak digunakan sebagai acuan praktis.
| Metode | Subuh | Isya | Digunakan di |
|---|---|---|---|
| MWL | 18° | 17° | Eropa, internasional |
| Karachi | 18° | 18° | Asia Selatan |
| ISNA | 15° | 15° | Amerika Utara |
Bandingkan waktu sholat berbagai metode untuk kota Anda di kalkulator waktu sholat Tuba — termasuk pemilihan mazhab Hanafi atau Syafi'i untuk Ashar.
Perbedaan Mazhab untuk Waktu Ashar
Di Indonesia, mayoritas Muslim mengikuti mazhab Syafi'i. Artinya waktu Ashar dimulai lebih awal dibanding perhitungan Hanafi. Aplikasi Tuba menyediakan pilihan kedua mazhab ini.
Coba fitur ini di aplikasi Tuba
Waktu sholat, Al-Quran, dzikir — semua dalam satu pendamping spiritual.
